Tuesday, April 2, 2013

Penyesalan


Disiang yang terik ini aku duduk disebuah bangku dibawah sebuah pohon yang rindang. Ini adalah bangku yang sering aku duduki ketika menunggunya bermain basket. Angin bertiup sangat lembut dan membuat ku kembali mengingat semua kejadian itu, kejadian yang ga akan mungkin lagi terjadi kecuali hanya dalam mimpi.
Mengingat semua kejadian itu membuat ku meneteskan air mata. Betapa bodohnya aku tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padanya sampai akhirnya dia tidak ada dan aku tidak disisinya. Aku adalah wanita yang tidak pernah bersyukur, sudah punya pacar yang pintar, ganteng, baik dan jadi idola sejak 2 tahun lalu di SMA 2 ini, tapi masih aja lirik yang lain.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, andai aja aku lebih bersyukur dan lebih menyayanginya pasti aku akan ada ketika detik – detik dia pergi meniggalkan dunia ini untuk selamanya.
                “Bodoh, bodoh kamu Stel!” kata ku dalam hati
Tiba – tiba ada suara yang samar – samar ku dengar memanggilku. “Stella, Stella” Sandra memanggilku dari jauh. Aku masih terbawa dalam semua ingatan ku tentang Denny sampai Sandra menepuk pundakku.
                “Stel, ngapain kamu disini?” kata Sandra sambil menepuk pundakku. “Eh kamu San, aku ga ngapa – ngapain kok” Jawabku sedikit ragu sambil mengusap air mataku yang sudah mebasahi pipi ku.
                Aku ga mau dia tahu kalau aku sedang memikirkan Denny. Ternyata aku salah Sandra tahu apa yang sedang aku lakukan disini. Sandra adalah sahabat baikku sejak SD jadi dia tahu apa yang sedang aku rasakan.
                Karena sudah tidak tahan lagi menahan rasa rindu dan penyesalan ini, akhirnya aku pun kembali menangis disisi Sandra, kali ini aku menangis sangat kencangnya. Setelah aku puas menangis aku pun bercerita kepada Sandra dan dia pun memberiku semangat.
                “Sudahlah jangan menangis lagi toh dia sudah pergi, dari pada kamu nangis mending kamu doain dia aja” kata Sandra kepadaku sambil menepuk – nepuk pundakku. Aku hanya menangguk dan berkata dalam hati “Maaf kan aku Denny”.