Disiang yang terik ini aku duduk
disebuah bangku dibawah sebuah pohon yang rindang. Ini adalah bangku yang
sering aku duduki ketika menunggunya bermain basket. Angin bertiup sangat
lembut dan membuat ku kembali mengingat semua kejadian itu, kejadian yang ga
akan mungkin lagi terjadi kecuali hanya dalam mimpi.
Mengingat semua kejadian itu
membuat ku meneteskan air mata. Betapa bodohnya aku tidak mengetahui apa yang
sedang terjadi padanya sampai akhirnya dia tidak ada dan aku tidak disisinya.
Aku adalah wanita yang tidak pernah bersyukur, sudah punya pacar yang pintar,
ganteng, baik dan jadi idola sejak 2 tahun lalu di SMA 2 ini, tapi masih aja
lirik yang lain.
Penyesalan memang selalu datang
terlambat, andai aja aku lebih bersyukur dan lebih menyayanginya pasti aku akan ada ketika detik – detik dia pergi meniggalkan dunia ini untuk selamanya.
“Bodoh,
bodoh kamu Stel!” kata ku dalam hati
Tiba – tiba ada suara yang samar – samar ku dengar
memanggilku. “Stella, Stella” Sandra memanggilku dari jauh. Aku masih terbawa
dalam semua ingatan ku tentang Denny sampai Sandra menepuk pundakku.
“Stel,
ngapain kamu disini?” kata Sandra sambil menepuk pundakku. “Eh kamu San, aku ga
ngapa – ngapain kok” Jawabku sedikit ragu sambil mengusap air mataku yang sudah
mebasahi pipi ku.
Aku ga
mau dia tahu kalau aku sedang memikirkan Denny. Ternyata aku salah Sandra tahu
apa yang sedang aku lakukan disini. Sandra adalah sahabat baikku sejak SD jadi
dia tahu apa yang sedang aku rasakan.
Karena
sudah tidak tahan lagi menahan rasa rindu dan penyesalan ini, akhirnya aku pun
kembali menangis disisi Sandra, kali ini aku menangis sangat kencangnya.
Setelah aku puas menangis aku pun bercerita kepada Sandra dan dia pun memberiku
semangat.
“Sudahlah
jangan menangis lagi toh dia sudah pergi, dari pada kamu nangis mending kamu
doain dia aja” kata Sandra kepadaku sambil menepuk – nepuk pundakku. Aku hanya
menangguk dan berkata dalam hati “Maaf kan aku Denny”.
No comments:
Post a Comment